Wednesday, January 31, 2018

Kubunuh kau di senja nanti

"kenapa harus ke rumah sakit sendirian malem malem gini sih? Kan waktu itu udah rame rame. Kenapa ngga janjian lagi aja sama yg lain? Kenapa harus jenguk sendiri?", pikirku sepanjang perjalanan menuju rumah sakit bersama Ibuku. Sesampainya disana, ternyata ada Adit. Temanku ketika masih duduk di bangku SMP dulu.

Oh ya, jadi aku ke rumah sakit soalnya Ibunya Ega, temen SMP ku juga, abis operasi. Setelah ketemu Adit, kami berjalan berdampingan melewati lorong lorong kecil yang menakutkan buatku. Di sebuah koridor, kami bertemu Nana. Ternyata yang lain juga menjenguk Tante Ani pada malam itu. Nana mengantar kami ke sebuah lorong dimana teman teman yang lain duduk melingkar. Aneh ya. Lorongnya gelap. Tiba tiba Ibu memanggilku untuk masuk ke salah satu ruangan untuk menemui yang lain. Lho kok yang sakit bukan Tante Ani? Aneh sekali yang aku temukan berbaring di tempat tidur itu malah orang lain.

Setelah aku memberi salam pada semua yang berada di kamar, tiba tiba aku didorong keluar ruangan bersama beberapa orang lain oleh Ayahnya Adit. Lho?

Entah bagaimana, setelah didorong itu aku mendapati diriku di sebuah kelas pada sore hari. Kelasnya sepi. Aku bersama dua orang temanku satu perempuan dan satu laki laki yang pada akhirnya aku ketahui bernama Ferry saling menatap kebingungan. Di luar ramai sekali. Semua siswa berdiri berjajar di koridor. Aku pun tercengang melihat sebuah tandu yang dipanggul empat orang. Diatasnya terbaring seseorang yang terbungkus kain kafan. Hah? Apa apaan ini?

Aku dan kedua temanku bergegas lari keluar kelas untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kami malah menemukan banyak tandu berkeliaran lengkap dengan jenazah diatasnya. Semua orang saling menatap ketakutan tapi tak berkutik. Tak adakah tempat untuk sembunyi?

Kami berjalan pelan pelan penuh ketakutan mengarungi lautan manusia. "kalo liat tujuh nanti kamu mati.", kata seseorang. Aku mulai berpikir, tadi berapa ya? Belum habis ketercenganganku, aku sudah berada di rooftop sekolah itu. Ramai sekali. Tiba tiba dari sebuah tangga terdengar suara seorang laki laki yang berteriak menyebutkan sebuah nama.teriakannya semakin keras. Dia menuju kesini! Aku panik, aku mendengar kata Ferry. "fer ferry lari fer kamu dicari! Ayo cepeet!", kataku sambil mendorong dorong tubuhnya. "heh Kenny! Kenny!". Oh aku salah, ternyata Kenny. Ternyata lagi, Kenny adalah seorang pria yang berdiri tepat di sebelah kiri Ferry.

Satu gerombolan yang berlarian dari tangga itu semakin mendekat. 3.. 2.. 1.. Mereka berhenti persis dihadapanku. Tuhan.... Si ketua geng pembunuh berdarah dingin, Bima, menatap Kenny dalam dalam dengan dua pisau tajam di kedua tangannya. Wajahnya terlihat senang mangsanya ada di depan mata. Pandangannya seketika beralih menuju Ferry. Aku dan kedua temanku saling bergandengan tangan erat. Tiba tiba Bima menatapku. Tepat di depan mataku. Walaupun aku dan dia terhalang seorang perempuan berperawakan kecil yang juga merupakan anggota gengnya. Aku pejamkan mataku kuat kuat. "astaghfirullahal'adzim.. Astaghfirullahal'adzim.. Astaghfirullahal'adzim..", gumamku sambil menggenggam erat tangan kedua temanku.

"Astaghfirullah.. Astaghfirullah.. Hahahaha takut ya?", tanya perempuan itu sambil meledekku. Aku memberanikan diri untuk membuka mata. Bima menatapku sambil membelalakkan matanya. "Hahahaha tak jawab doamu dek. Astaghfirullah hahahaha.",katanya. Aku tak mengerti maksudnya. Apa? Aku tak mampu berpikir. Aku ketakutan setengah mati.
"Saya bunuh kamu aja," kata Bima sambil memeluk perempuan di depannya. Mereka berdua jatuh terduduk. Salah satu pisaunya dimasukkan kedalam mulut si pembunuh. lalu dihunuskan pisau lainnya ke perut si perempuan. Matilah dia...

Bima seketika mencabut pisaunya dari perut perempuan itu. Aku dan Ferry segera mengangkat perempuan itu dan menyandarkannya ke tembok. Aku membimbingnya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat di masa sekaratnya. Bima terlihat puas sekali. Dia meletakkan pisau berdarahnya di dalam genggamanku lalu lekas pergi. Senja semakin memerah. Suara perempuan itu memudar. Nafasnya terhenti. Badannya jatuh ke lantai. Kujatuhkan pula pisau dari genggamanku. Kami pun pergi meninggalkan rooftop berdarah itu.

Semua orang turun melalui sebuah tangga yang sama. Antri. "lewat tangga lain yuk yg sepi. Aku takut.", kataku.

"ambil sapu gih, aku ambil pel. Kita bersihin ya sekolahnya."
"emang sekolah ini berapa lantai?"

..................




Cerita di atas ditulis berdasarkan pengalaman pribadi di dalam mimpi ketika tidur sekitar, entahlah, tahun 2013 yang lalu mungkin. Begitu seram dan membekas sampai-sampai aku tuliskan di draft blog. Lalu kupikir hilang!

Sekarang, 5 tahun kemudian, aku menemukannya di antara draft-draft yg tidak kubaca. Well yeah, aku tidak mengakses blog beberapa waktu memang. Lupa password, hehe.

Rasa-rasanya cerita itu belum selesai, tapi aku sudah lupa kelanjutannya. Sudahlah aku publish saja. Ternyata dulu aku bisa menulis seperti itu.

Lebih baik bacanya mulai dari paragraf 4 saja. Disitu kalimatnya lebih jelas dan terstruktur dibandingkan dengan paragraf 1 sampai 3.

Selamat menikmati tulisanku 5 tahun yang lalu!

Sunday, April 19, 2015

Batas

Jadi saya sudah punya jawabannya sekarang..
Bahwa kesabaran tidak memiliki batas, melainkan kewajaran yang berbatas

Kata orang kadar sabar setiap orang berbeda. Ada yang mudah marah, ada yang bisa terus nerimo. Sebagian orang meyakini sabar dan bodoh selisihnya tipis. Untuk itu saya menengahinya dengan batas wajar.

Semua orang bisa bersabar. Si pemarah pun bisa bersabar. Tapi ketika sesuatu yang ditunggu dengan kadar kesabaran itu kelewatan, disitulah muncul batas kewajaran. Saya ambil contoh menunggu. Ada yang bilang nunggu 15 menit itu lama, tapi ada yang bilang telat 1 jam itu normal dan ditoleransi.
Batas wajar......
Semua manusia terlahir dengan memiliki kesabaran, namun kadar toleransi yang saya sebut dengan kewajaran ini yang berbeda dalam asumsi masing-masing pribadi. Beberapa orang rela menunggu 1-2 jam demi memenuhi hasrat laparnya (karna katanya enak dan worth to wait). Sementara sisanya menganggap menunggu selama 1-2 jam hanya untuk makanan (seenak apapun) yang cuma terasa di lidah, singgah sementara di perut, dan berakhir di tinja adalah hal yang sia-sia.

Btw saya #teamwaktutidakdibuang. Saya ga sabaran. Waktu adalah hal yg penting buat saya. Betapa sayangnya saya sama waktupun, namun masih sering saya menyia-nyiakan waktu.
Lalu bagaimana dengan #teambuangbuangwaktu?

Saturday, June 7, 2014

Pembodohan Siswa Tersistematis

Tidak pernah bosan kita sebagai manusia pada umumnya untuk berkomentar. Mencampuri urusan orang bisa jadi hal wajib untuk sebagian manusia. Belum lagi membicarakan hal-hal kenegaraan berbau politis dianggap gaul diplomatis. Padahal mungkin menyinggung masalah isu pemilihan Presiden pun, kehidupan calon-calonnya hanya dapat diketahui melalui berita-berita yang sering orang baca. yang juga seringkali tak jelas sumbernya. Tapi membuat kita seakan-akan mengetahui segalanya.

Mengenai pendidikan, mendekati akhir semester, kita mulai membayang-bayangkan keadaan disemester depan akan seperti apa. Mahasiswa maupun siswa pada umumnya akan bercita-cita mulia untuk menjadi lebih rajin, mengerjakan tugas jauh-jauh hari, fokus belajar di dalam kelas. Seringkali harapan mulia itu sirna seiring berjalannya waktu.

Pagi tadi, di dalam perjalanan menuju suatu stasiun pengisian bahan bakar, saya berbincang dengan Ibu mengenai rencana kuliah semester depaan. Padahal ujian akhir semester ini saja belum dimulai. Obrolan itu menuju pada pertanyaan Ibu mengenai indeks prestasi saya. Indeks prestasi yang seolah-olah adalah garis finish bagi seorang pelari. Dengan jujur saya mengungkapkan bahwa indeks prestasi (atau sebut sajalah IP supaya tidak terlalu terdengar elite dengan mendengar kata "prestasi"-nya) saya adalah yang paling rendah diantara teman-teman main saya. Apakah saya terlalu bodoh? Apakah saya ini pemalas?


Judul tulisan saya diatas saya dapatkan dari sini:


Gambar yang saya dapatkan dari sebuah catatan di facebook milik teman saya. Ada beberapa kata yang membuat saya terngiang-ngiang: tukang menyelesaikan soal. Belum lagi, di catatan yang berjudul Bangsa Penyedia Kuli itu menyuguhkan sebuah frase kuli berdasi. Tujuan akhir yang bermula pada orientasi nilai tanpa ilmu. Bagaimana bisa kita menciptakan ilmuwan kalau dikelas kita hanya belajar bagaimana cara menggunakan rumus? Bahkan bimbingan belajar berseru-seru tentang kesederhanaan rumus yang ditemukannya, bukan dari mana rumus itu berasal. Okelah mungkin saya pribadi pun masih seperti itu. Bukan pemikir kritis.

Masih saya ingat jelas ketidakmampuan saya dalam hal menggambar. Setiap buku gambar saya ketika duduk di bangku sekolah dasar dulu, pasti ada 2 atau 3 halaman yang isinya gambar 2 gunung dengan matahari menyembul diantaranya (atau di pojok kanan atas) dan hamparan sawah yang dibelah oleh sebuah jalan. Itulah penjara imajinasi saya. Berkat guru yang imajinasinya juga terpenjara. Atau memang ada kurikulum di taman bermain untuk pelajaran menggambar: murid mampu menggambar gunung dengan blablabla-nya itu?

Diknas Bandung dengan bangga menyatakan bahwa pada 2015 akan ada 70% siswa lulusan SMK yang siap kerja dan sisanya SMU. Dosen-dosen pun dengan (mungkin tidak) gombal memotivasi mahasiswanya untuk berpenghasilan tinggi. Jangan mau ilmu kita dibayar murah, katanya. Atau memanfaatkan ketidaktahuan seseorang terhadap kebutuhannya membuat kita dengan mudah meraih keuntungan darinya. Sadarkah kita bahwa kita diajarkan mengejar ilmu untuk memenuhi nafsu? Minimal perut. Apa bisa duit segitu buat makan sebulan anak istrimu dan keperluan rumah tangga, katanya. Kita diajarkan untuk tidak menerima amplop tipis. Inilah dunia yang rakus dengan latar belakang kehidupan dinamis.



Selamat datang di dunia yang menyapa bulan namun tak menyapa tetangga sebelah halaman.
Selamat datang di dunia yang berteknologi tinggi dan membuat kita lupa rasanya berjalan kaki.
Selamat datang di dunia dimana kita bisa menyentuh tingginya awan tapi lupa bagaimana kabar kawan.
Selamat datang di dunia yang banyak meluluskan sarjana yang kecerdasannya telah sirna.
Selamat datang di dunia yang memiliki begitu banyak uang sebanyak hartanya dibuang-buang.
Selamat datang di dunia yang begitu duniawi hingga kita, manusia, lupa untuk menjadi manusiawi.

Friday, July 19, 2013

For everyone who think they are not lovable

"I will not care about what car you drive -or basically what vehicle you ride. Or where you live. Or who your daddy is. Or if you know someone who knows someone who knows someone. If you're part of A list, B list or nobody-ever-heard-of-you list. I don't give a damn.
I will not care about our first impressions, no matter how awkward, how weird, or even how ordinary it is.
I will not fall in love with your bones or skins. I will not fall in love with famous places you've been.
I will not fall in love with anything, but you.
And your words that flutter from your mind, and your acts that will speak for itself.
They are the only thing you own, the only thing I will ever remember you by,
and the only thing that can make me,
or anyone,
love you."



    Written by Amalia Pramadewi Djohan, BA (Hons).

    Wednesday, April 10, 2013

    Ia berkata, "ya Allah sesungguhnya tulangku telah lemah dan rambutku penuh uban, namun belum pernah aku kecewa dalam berdoa kepadamu, ya Tuhanku." - QS. Maryam : 4

    Thursday, January 31, 2013

    Keadilan

    Kadang waktu kita jujur, yg lain curang. Waktu kita berusaha, yg lain memanfaatkan. Hidup ini emang sebuah momentum. Keadaan keadaan gimana yang pasnya dimana. Kadang kita berwarna putih disaat yg lain gelap. Kemudian ragu dan menjadi abu abu. Nggak adil ya? Kenapa harus dipaksakan senada? Eh tapi saya juga ga berani sih buat jadi putih diantara yg gelap. Saya ga berani buat melangkah kearah perubahan..

    Hidup ini saya sadari emang ngga adil. Tergantung sih. Tergantung subyek perantara. Kalo antara saya sama kamu, saya sama orang lain, orang lain sama kamu, dan semacamnya ya emang ngga adil. Contohnya: saya hidup biasa biasa aja, pinter juga ngga begitu, rajin juga engga (oke ini ngefek ke pinter apa engga), muka standar, gaul juga engga, supel ya engga, berkata kata indah apalagi. Apa yg bisa saya banggakan dari diri saya? Apa yg bisa orang lain banggakan dari diri saya?

    Sedangkan teman saya ada yg cantik, kaya, pinter, pacar ganteng, ngerti agama. Istilahnya sih udah ngga ada kurang kurangnya deh. Sampe saya pernah ngobrol sama sahabat karib saya..
    "he anak itu lho kok sempurna ya"
    "iya kitanya gini gini aja. Dia apa ya yg kurang ya?"
    "kita aja gatau kali ya"
    "atau emang ngga ada"

    Ya mungkin memang ngga ada minusnya. Lalu dengan gamblang kita bilang hidup itu ga adil.

    Tapi coba lihat lewat perbandingan saya dan diri saya, kamu dan diri kamu, orang lain dan dirinya sendiri. Perbedaannya adalah waktu. Kalo tadi pagi saya ketawa ngakak ga karuan, malemnya pasti ada aja yg bikin bete atau bahkan sampe nangis. Itu deh contoh yg jelas ada tiap hari.

    Semakin disadarin adanya saya dan kamu, panas dan dingin, basah dan kering, air dan api, kotor dan bersih, salah dan benar itu merupakan bentuk sebuah keadilan kan?

    Masalahnya, keadilan itu ngga ada yg salah ngga ada yg bener kan buat jaman sekarang? Tinggal cocok apa engganya. Nah masalahnya lagi, sifat cocok cocokan itu relatif.........

    Monday, December 31, 2012

    Make You Love Me


    If you put your cigarette down / You'll figure out / The pain is self inflicted / Now you're addicted / To hating the love that I'm giving you / What will you do, when I'm gone... / Do I have to go away to make you love me / Do I have to go away to make you love me.. / Will you put your cigarette down / So we can talk / 'bout how far we have drifted / Never predicted / Too late to fix everything we've been through / What will you do, when I'm gone... / I hate to see you cry / But you're the reason why it's over / You brought this on yourself / You're screaming what the hell it's over / Don't know what you have 'till it's gone / Away...

    US (covered by Audrey, Gamaliel, & Georgina Tapiheru)

    ****

    Beberapa hari yg lalu saya tweeting gini: "DO I HAVE TO GOOO AWAAY TO MAKE YOU LOVE MEEE~". Sekian menit berselang, teman saya nge-RT dan bilang "yes". Well, itu bukan ditujukan buat dia dan the-yes juga ngga ditujukan buat saya setelah saya yakinkan dengan pertanyaan, "modus mas?" dan dia menjawab tidak...

    Beberapa hari (atau mungkin minggu, entah, saya lupa) sebelumnya, the-one-who-said-yes pernah bilang sesuatu yg membuat saya menanam ini di otak saya: "jadi ketika you're in love with someone, then the-someone suddenly leaves although with a reasonable cause and it's your fault itself, and you're warned to stay away, somehow it makes you more and more attached to that someone."
    Makanya waktu the-one-who-said-yes bilang "yes", saya rasa memang masuk akal. Iya kan? Walaupun waktu adalah obat terbaik untuk segala penyakit termasuk hati (perasaan), masuk akal kan meskipun kalo (mungkin at first) jadi overly attached lalu akhirnya entah bagaimana..
    Saya setuju soalnya saya juga pernah gitu.......................

    Tapi bukan berarti bisa disimpulkan bahwa kalo pengen being loved terus go away.. Entar malah dilupain. Just in some cases yaa..