Tuesday, June 19, 2012

Larangan

Sudah kubilang jangan dibaca kenapa masih saja ada yg memberikan satu suaranya di kolom excellent? Mau jadi jagoan? Mainstream? Okelaah, ini membuktikan bahwa manusia semakin dilarang akan semakin nakal. Itulah alasan mengapa bapak ibuku tidak pernah melarangku dalam hal apapun. Hanya memberi pengertian. Katanya, "kalo dilarangin keras keras entar ngelunjak". Ya memang benar. Ketika kamu berteriak "jangan menoleh!", justru semua orang akan memberikan responnya secara refleks untuk mencari sumber suara tersebut. Begitulah.... Tapi bukan berarti peraturan dibuat untuk dilanggar. Itu sih dasarnya ga punya aturan aja

Jangan Dibaca Juga!

Panda. Huufffff.... Sejak beberapa hari yg lalu aku mengikuti (follow) sebuah akun. Temanku. Aku tertarik mengikutinya karena kalimatnya menurutku lumayan juga. Lumayan keatas. Lumayan sangat keatas. Kalau ada atapnya, level lumayan itu sudah ada di loteng. Si Bintang Misterius. Mahasiswa baru sekolah bisnis manajemen di sebuah universitas ternama di bandung. Timelineku berubah. Aneh. Loadingnya lama. Ga abis abis. Ternyata dia berulah. Dia mengajak hampir semua orang untuk menulis. Aarrrgghhhhh!! Aku hampir saja muak. Beruntung, aku pernah seperti dia. Aku pernah sangat giat menulis. Puisi. Sama sepertinya. Namun sayangnya buku itu hilang. Dihilangkan. Terhilangkan. Aku pun, hingga sekarang, bertemu atau sekedar mendengar nama seseorang yg berulah (menghilangkan bukuku) itupun aku benci. Seorang pria. Otaknya...... Entahlah. Ada dimana? Sejak itu, aku tenggelam dalam rasa benciku dan berhenti menulis. Oh ya, lagi, si Bintang Misterius itu memberi julukan kepada setiap kawan yg menanggapi kicauannya. Aku belum pernah sih. Mungkin aku juga akan mendapatkan sebuah nama pena darinya. Seorang temanku, perantau, penjelajah Indonesia, mendapatkan sebuah nama yg menurutku terdengar seperti pahlawan pewayangan. Panah Sunda. Lucu ya? Menurutku itu sungguh sangat keren sekali. Dikatakan panah karena kata katanya yg menusuk. Dan sunda, hanya karena dia mampu berbahasa sunda. Kenapa tidak panah khatulistiwa? Entahlah. Si Panah Sunda ini sejak kecil hidupnya nomaden. Persis bapak. Iya. Sejak pertama kali aku mendengar ceritanya, aku langsung teringat bapakku. Bapak dulu juga nomaden. Perantau. Mengikuti dinas kakek. Setelah berbicara banyak dengannya, aku semakin merasa cara pikirnya, cara pandangnya persis sekali dengan bapak. Apa semua anak perantauan memang seperti itu? Karena telah bertemu dengan banyak orang? Harus begitu cepat beradaptasi? ........................... Entahlah aku ini bicara apa. Cukup Panah Sunda! Sudah kubilang aku tak ingin menulis. Jangan memaksaku!

Monday, June 18, 2012

Jangan Dibaca!

Aku dulu menemukan diriku didalam kotak itu. Dalam bahasa dan kata kata itu. Itu adalah hidupku dulu ketika umurku masih baru belasan. Sekarang masih belasan siih, tapi menengah keatas. Ya, aku dulu pernah persis seperti mereka, teman temanku sekarang dengan bahasa dan bahasan yg sama. Bedanya itu semua tenggelam dalam pikiranku sendiri. Iya aku ini amat sangat egois sekali sungguh. Bahkan tentang pendapat pendapatku sendiri. Aku membiarkannya terbenam dalam neuron neuronku. Masih adakah? Atau sudah berubah jadi fossil? Aku terlalu toleran. Aku membiarkan warna putih bernoda karena aku kira masih ada warna hitam. Yaa walaupun aku benci warna putih bernoda itu. Tapi entahlah. Sekali lagi, aku terlalu egois bahkan untuk diriku sendiri. Aku tidak pernah membiarkan diriku atau bahkan sekedar pemikiranku untuk menyelam terlalu dalam. Aku cuma seorang tukang intip yang tidak pandai mengambil kesimpulan. Cukup sekedar tau untuk seseorang seperti aku yg tukang intip. Yang selalu mau tau tapi diam saja. Selalu mau tau tapi apatis. Bukannya aku tidak peduli. Tapi apa yg dikatakan ibuku selalu aku rasa benar. Katanya, "kalo tau ya tau tauan aja. Ga usah ikutan masuk masuk. Daripada ntar kamu dikira terlibat terus menjalar kemana mana". Kemudian aku mendefinisikannya secara umum. Aku memberlakukan kalimat tersebut pada setiap hal yg aku ketahui, yg aku ingin tau. Aku pernah ada dalam situasi dimana orang disekitarku membicarakan keburukan temanku. Otakku bekerja, telingaku mendengar. Sampai akhirnya salah seorang dari mereka sadar dan berkata, "dia temanmu, kan?". Ya benar, sangat benar. Diam itu memang emas. Aku mengetahui sesuatu secara tidak sengaja dan tidak membuat mereka berhenti membicarakannya didepanku. Cukup tau. Tapi kadang aku benci kenapa aku ini seperti spons ya? Aku mudah saja menerima pendapat orang tentang sesuatu walaupun aku belum tentu melakukannya, belum tentu memiliki pemikiran yg sama. Aku ingin membantah tapi aku kehabisan kata kata. Atau kadang terlalu takut untuk mengungkapkan hingga pada akhirnya aku memikirkan sebab akibatnya sendiri dalam sel sel otakku dan DUAARR!! Pecah semuanya hilang entah kemana pikiranku dan *TETTOT* aku gagal mengungkapkannya, aku urungkan. Ya, mungkin itu alasannya. Sudah banyak orang yg duduk berdiskusi dalam otakku sendiri. Akupun tidak bisa menyimpulkan apa yg mereka bahas. Aku terkurung didalam penjara suara dari otakku.

Friday, June 1, 2012

This June ...

[Hmm bulan Juni. Sebenernya sih ga pernah ada pengharapan apapun yaa. Manusia tanpa hasrat, katanya. Begitulah. Tapi berhubung banyak yg mengirimkan doa doanya dalam #Junewish, ikutan sekali kali boleh lah ya.

Juni ini titik balik kehidupanku kalo dipikir pikir. Harus belajar berubah jadi seorang yg independen. Bukan tergantung sama orang lain. Ya, aku ini sangat tergantung sama orang lain. Susah memutuskan suatu hal sendiri (kecuali dalam keterpaksaan, jelas). Tapi aku bahkan sulit memaksa diriku sendiri. Ga ngerti deh. Aku robot ya? Berarti benar apa yg dikatakan mereka, kami (mungkin aku saja) adalah si robot pintar. Tunggu, pintar? Entahlah. Robot saja mungkin lebih tepat. Tapi tapi robot melakukan kesalahan ketika rusak. Dan aku? Tidak rusak tapi tetap melakukan kesalahan. Serba salah pula. Ooh jadi aku ini robot rusak. Jadi #Junewish nya adalah:
"ya Allah, aku Engkau ciptakan bukan untuk menjadi robot. Robot diperintah tapi aku berjuang. Lindungilah aku dalam setiap langkah perjuanganku ya Allah. Amin"
Lainnya adalah, aku pengen keterima di pilihan 1, elits. Semoga yg pinter pinter keterima di pilihan pertama jadi ga jatoh ke pilihan kedua yaa yg pilihan keduanya elits :)
Yang mau jadi dokter yaa, jempol deh! Indonesia harusnya punya 80ribu dokter yg tersebar di seluruh nusantara secara merata. Tapi sekarang Indonesia baru punya 50ribu dokter yg tersedia. Belom yg malpraktek, belom yg aborsi, belom yg cabul. Hiiii.... Jadilah 30ribu lain yg baik. Yang merawat penduduk pelosok yg kurang perhatian.
Jadi doanya membawa Indonesia jadi lebih baik dari segala sektor.

Dan aku punya harapan terpendam yg belum aku ungkapkan pada siapapun. Satu orang pun. Semoga terwujud, dan doamu juga :)]

posted from Bloggeroid