Monday, June 18, 2012

Jangan Dibaca!

Aku dulu menemukan diriku didalam kotak itu. Dalam bahasa dan kata kata itu. Itu adalah hidupku dulu ketika umurku masih baru belasan. Sekarang masih belasan siih, tapi menengah keatas. Ya, aku dulu pernah persis seperti mereka, teman temanku sekarang dengan bahasa dan bahasan yg sama. Bedanya itu semua tenggelam dalam pikiranku sendiri. Iya aku ini amat sangat egois sekali sungguh. Bahkan tentang pendapat pendapatku sendiri. Aku membiarkannya terbenam dalam neuron neuronku. Masih adakah? Atau sudah berubah jadi fossil? Aku terlalu toleran. Aku membiarkan warna putih bernoda karena aku kira masih ada warna hitam. Yaa walaupun aku benci warna putih bernoda itu. Tapi entahlah. Sekali lagi, aku terlalu egois bahkan untuk diriku sendiri. Aku tidak pernah membiarkan diriku atau bahkan sekedar pemikiranku untuk menyelam terlalu dalam. Aku cuma seorang tukang intip yang tidak pandai mengambil kesimpulan. Cukup sekedar tau untuk seseorang seperti aku yg tukang intip. Yang selalu mau tau tapi diam saja. Selalu mau tau tapi apatis. Bukannya aku tidak peduli. Tapi apa yg dikatakan ibuku selalu aku rasa benar. Katanya, "kalo tau ya tau tauan aja. Ga usah ikutan masuk masuk. Daripada ntar kamu dikira terlibat terus menjalar kemana mana". Kemudian aku mendefinisikannya secara umum. Aku memberlakukan kalimat tersebut pada setiap hal yg aku ketahui, yg aku ingin tau. Aku pernah ada dalam situasi dimana orang disekitarku membicarakan keburukan temanku. Otakku bekerja, telingaku mendengar. Sampai akhirnya salah seorang dari mereka sadar dan berkata, "dia temanmu, kan?". Ya benar, sangat benar. Diam itu memang emas. Aku mengetahui sesuatu secara tidak sengaja dan tidak membuat mereka berhenti membicarakannya didepanku. Cukup tau. Tapi kadang aku benci kenapa aku ini seperti spons ya? Aku mudah saja menerima pendapat orang tentang sesuatu walaupun aku belum tentu melakukannya, belum tentu memiliki pemikiran yg sama. Aku ingin membantah tapi aku kehabisan kata kata. Atau kadang terlalu takut untuk mengungkapkan hingga pada akhirnya aku memikirkan sebab akibatnya sendiri dalam sel sel otakku dan DUAARR!! Pecah semuanya hilang entah kemana pikiranku dan *TETTOT* aku gagal mengungkapkannya, aku urungkan. Ya, mungkin itu alasannya. Sudah banyak orang yg duduk berdiskusi dalam otakku sendiri. Akupun tidak bisa menyimpulkan apa yg mereka bahas. Aku terkurung didalam penjara suara dari otakku.

No comments:

Post a Comment