Saturday, June 7, 2014

Pembodohan Siswa Tersistematis

Tidak pernah bosan kita sebagai manusia pada umumnya untuk berkomentar. Mencampuri urusan orang bisa jadi hal wajib untuk sebagian manusia. Belum lagi membicarakan hal-hal kenegaraan berbau politis dianggap gaul diplomatis. Padahal mungkin menyinggung masalah isu pemilihan Presiden pun, kehidupan calon-calonnya hanya dapat diketahui melalui berita-berita yang sering orang baca. yang juga seringkali tak jelas sumbernya. Tapi membuat kita seakan-akan mengetahui segalanya.

Mengenai pendidikan, mendekati akhir semester, kita mulai membayang-bayangkan keadaan disemester depan akan seperti apa. Mahasiswa maupun siswa pada umumnya akan bercita-cita mulia untuk menjadi lebih rajin, mengerjakan tugas jauh-jauh hari, fokus belajar di dalam kelas. Seringkali harapan mulia itu sirna seiring berjalannya waktu.

Pagi tadi, di dalam perjalanan menuju suatu stasiun pengisian bahan bakar, saya berbincang dengan Ibu mengenai rencana kuliah semester depaan. Padahal ujian akhir semester ini saja belum dimulai. Obrolan itu menuju pada pertanyaan Ibu mengenai indeks prestasi saya. Indeks prestasi yang seolah-olah adalah garis finish bagi seorang pelari. Dengan jujur saya mengungkapkan bahwa indeks prestasi (atau sebut sajalah IP supaya tidak terlalu terdengar elite dengan mendengar kata "prestasi"-nya) saya adalah yang paling rendah diantara teman-teman main saya. Apakah saya terlalu bodoh? Apakah saya ini pemalas?


Judul tulisan saya diatas saya dapatkan dari sini:


Gambar yang saya dapatkan dari sebuah catatan di facebook milik teman saya. Ada beberapa kata yang membuat saya terngiang-ngiang: tukang menyelesaikan soal. Belum lagi, di catatan yang berjudul Bangsa Penyedia Kuli itu menyuguhkan sebuah frase kuli berdasi. Tujuan akhir yang bermula pada orientasi nilai tanpa ilmu. Bagaimana bisa kita menciptakan ilmuwan kalau dikelas kita hanya belajar bagaimana cara menggunakan rumus? Bahkan bimbingan belajar berseru-seru tentang kesederhanaan rumus yang ditemukannya, bukan dari mana rumus itu berasal. Okelah mungkin saya pribadi pun masih seperti itu. Bukan pemikir kritis.

Masih saya ingat jelas ketidakmampuan saya dalam hal menggambar. Setiap buku gambar saya ketika duduk di bangku sekolah dasar dulu, pasti ada 2 atau 3 halaman yang isinya gambar 2 gunung dengan matahari menyembul diantaranya (atau di pojok kanan atas) dan hamparan sawah yang dibelah oleh sebuah jalan. Itulah penjara imajinasi saya. Berkat guru yang imajinasinya juga terpenjara. Atau memang ada kurikulum di taman bermain untuk pelajaran menggambar: murid mampu menggambar gunung dengan blablabla-nya itu?

Diknas Bandung dengan bangga menyatakan bahwa pada 2015 akan ada 70% siswa lulusan SMK yang siap kerja dan sisanya SMU. Dosen-dosen pun dengan (mungkin tidak) gombal memotivasi mahasiswanya untuk berpenghasilan tinggi. Jangan mau ilmu kita dibayar murah, katanya. Atau memanfaatkan ketidaktahuan seseorang terhadap kebutuhannya membuat kita dengan mudah meraih keuntungan darinya. Sadarkah kita bahwa kita diajarkan mengejar ilmu untuk memenuhi nafsu? Minimal perut. Apa bisa duit segitu buat makan sebulan anak istrimu dan keperluan rumah tangga, katanya. Kita diajarkan untuk tidak menerima amplop tipis. Inilah dunia yang rakus dengan latar belakang kehidupan dinamis.



Selamat datang di dunia yang menyapa bulan namun tak menyapa tetangga sebelah halaman.
Selamat datang di dunia yang berteknologi tinggi dan membuat kita lupa rasanya berjalan kaki.
Selamat datang di dunia dimana kita bisa menyentuh tingginya awan tapi lupa bagaimana kabar kawan.
Selamat datang di dunia yang banyak meluluskan sarjana yang kecerdasannya telah sirna.
Selamat datang di dunia yang memiliki begitu banyak uang sebanyak hartanya dibuang-buang.
Selamat datang di dunia yang begitu duniawi hingga kita, manusia, lupa untuk menjadi manusiawi.